Laman

Minggu, 11 Maret 2012

Pengobatan/ terapi stroke dengan akupuntur


dr. Yudhi Perdana

Sejarah

Terapi akupunktur telah dipraktekkan sejak 5000 tahun yang lalu, yang dimulai dengan penggunaan jarum dari batu.
Secara sistematis telah dicatat dalam literatur klasik “Yellow Emperor’s classic of Internal Medicine’ yang disusun sekitar 2500 tahun silam.

Teori akupunktur:
Kondisi kesehatan seseorang tergantung pada keseimbangan dari Yin dan Yang dalam tubuh. Konsep Yin dan Yang menganggap bahwa dalam alam semesta selalu dijumpai kondisi yang saling berlawanan, yang merupakan satu kesatuan dan tak terpisahkan.
Dalam akupunktur tubuh manusia merupakan satu kesatuan yang meliputi beberapa organ. Organ-organ ini saling berhubungan melalui jalur yang disebut sebagai meridian.
Dalam akupunktur terdapat 12 meridian utama ditambah dengan beberapa meridian istimewa yang lain.. Qi atau energi vital mengalir disepanjang meridian ini, selain masuk pada organ yang bersangkutan..
Diagnosa dalam akupuntur disimpulkan dari 4 cara pemeriksaan antara lain dengan pengamatan, wawancara, perabaan termasuk perabaan nadi.
Terapi akupunkur ditujukan untuk mengembalikan ketidakseimbangan dari Yin danYang, serta menjaga kelancaran dari aliran Qi dan fungsi organ yang optimal.
Saat ini jarum yang digunakan dalam akupunktur adalah jarum stainless stell yang halus. Umumnya adalah jarum sekali pakai (disposible), dimana panjang jarum yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan lokasi yang ditusuk.
Dikenal berbagai metode akupuntur antara lain akupuntur tubuh, akupuntur kepala, akupuntur telinga, moksibusi.

Terapi akupuntur untuk penyakit stroke.

Terapi akupunktur untuk mengobati stroke sudah sama tuanya dengan sejarah dari akupunktur sendiri. Berbagai literatur klasik telah mencatat gejala-gejala, penyebab maupun terapi stroke.

Diagnosa stroke menurut pandangan akupunktur
I. Pre stroke:
II. Stoke fase akut
III. Stroke fase stabil
IV. Gejala sisa stroke

I. Pre stroke:

Gejala utama: terjadi satu atau lebih gejala-gejala seperti dibawah ini yang berlangsung sesaat namun berulang, atau berlangsung lebih dari 24 jam namun dalam waktu 3 minggu pulih kembali :
 Rasa kesemutan anggota gerak sesisi, rasa tebal, atau keringat yang hanya ada pada sesisi tubuh
 Anggota gerak lemah , lumpuh sesisi
 Pusing, nyeri kepala
 Gangguan penglihatan
 Gangguan bicara atau menelan

Gejala diatas disertai dengan riwayat darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung atau gangguan pada kekentalan darah.
Gejala-gejala tersebut harus dibedakan dari penyakit lain seperti vertigo, migrain, gangguan syaraf leher, dan lain-lain

II. Diagnosa dan terapi Stoke fase akut
Gejala utama:
Kelumpuhan anggota gerak sesisi, mulut dan lidah miring kesatu sisi, gangguan kesadaran, gangguan bicara rasa kesemutan pada sesisi tubuh dan terjadinya akut.
Dijumpai banyak faktor pencetus, dan sebelumnya pernah ada gejala pre stroke. Umumnya terjadi pada usia diatas 40 tahun.

Secara umum dibagi menjadi:
1. Stroke meridian
Gejala: rasa kesemutan atau kelumpuhan sesisi tubuh, atau kelumpuhan pada mulut dan lidah.
2. Stroke organ
Gejala: kelumpuhan anggota gerak sesisi, kelumpuhan pada mulut dan lidah, gangguan bicara, gangguan kesadaran.
Secara klinis stroke organ lebih berat dari stroke meridian karena disertai dengan gangguan kesadaran.

III. Diagnosa dan terapi stroke fase stabil

Diagnosa:
Biasanya dipakai patokan antara 2 minggu hingga setengah tahun setelah serangan stroke.
Diferensiasi sindrom:
Gejala utamanya terutama gejala-gejala stroke meridian, dan sudah tak dijumpai gejala gangguan kesadaran pada stroke organ. Kondisi penyakit sudah membaik.

IV. Diagnosa dan terapi gejala sisa strok
Setelah 1 tahun terjadinya serangan stroke dijumpai gejala sisa seperti kecacatan pada fungsi anggota gerak, bicara, penglihatan dan pendengaran disebut fase gejala sisa stroke.

Terapi stroke meridian dan kolateral dengan akupuntur
Ditujukan untuk:
• Kelumpuhan anggota gerak sesisi
• Kelumpuhan pada wajah
• Gangguan bicara dan menelan

Rabu, 29 Februari 2012

Penyakit yang bisa diobati dengan akupuntur

PENYAKIT DAN KELAINAN YANG DAPAT DIOBATI DENGAN AKUPUNKTUR (MENURUT WHO) ANTARA LAIN: 1.Gejala nyeri pada berbagai bagian tubuh: Nyeri kepala (Headache), Nyeri daerah wajah (Facial pain -including craniomandibular disorders), Nyeri leher (Neck pain), Nyeri lutut (Knee pain), Nyeri pinggang (Low back pain), Nyeri gigi (Pain in dentistry), Nyeri setelah operasi (Postoperative pain), Nyeri pinggang sampai tungkai (Sciatica), Nyeri kanker (Cancer pain), Nyeri siku (Tennis elbow), Nyeri bahu (Frozen shoulder), Nyeri otot dan urat (Fibromyalgia and fasciitis), Nyeri daerah mata (Eye pain due to subconjunctival injection), Nyeri menjalar tulang belakang (Radicular and pseudoradicular pain syndrome), Nyeri ujung jeri (Raynaud syndrome, primary), Nyeri tulang belakang (Spine pain, acute), Kaku leher (Stiff neck) 2. Berbagai penyakit pada kandungan, kehamilan dan penyakit pada wanita: Nyeri haid (Dysmenorrhoea, primary), Mual muntah saat hamil (Morning sickness), Sindrom saluran kemih wanita (Female urethral syndrome), Gangguan ovarium (Hypo-ovarianism), Air susu kurang (Lactation, deficiency), Sindrom polikistik (PCO-Polycystic ovary syndrome/Stein–Leventhal syndrome), Sindrom menstruasi (Premenstrual syndrome) 3. Penyakit rematik, tulang dan persendian: Radang sendi bahu (Periarthritis of shoulder) Rematik arthritis (Rheumatoid arthritis), Keseleo (Sprain), Rematik asam urat (Gouty arthritis), Rematik sendi (Osteoarthritis), Sindrom kering-Sicca (Sjögren syndrome), Gangguan rahang (Temporomandibular joint dysfunction) 4. Penyakit saraf: Strok- lumpuh separuh badan (Stroke), Wajah menceng-miring (Bell’s palsy), Kejang otot wajah (Facial spasm), Penyakit menier (Ménière disease), Nyeri setelah herpes (Neuralgia, post-herpetic), Dimensia (Vascular dementia), Parkinson ,Gangguan setelah trauma kepala (Craniocerebral injury, closed) 5. Penyakit mental: Depresi (Depression), Cemas (Cardiac neurosis), Stres (Competition stress syndrome), Sulit tidur (Insomnia) 6. Penyakit kulit: Jerawat (Acne vulgaris), Flek wajah (Chloasma), Gatal pada kulit (Neurodermatitis) 7. Penyakit dalam: Tekanan darah tinggi (Hypertension, essential), Tekanan darah rendah (Hypotension, primary), Kolesterol (Hyperlipaemia), Kegemukan (Obesitas), Kencing manis (Diabetes mellitus, non-insulin-dependent), Kurang darah putih (Leukopenia), Ketergantungan alcohol (Alcohol dependence and detoxification), Berhenti merokok (Tobacco dependence), Reaksi kemoterapi atau radioterapi 8. Penyakit saluran kemih: Gangguan kandung kemih setelah cedera tulang belakang., Radang prostat kronis (Prostatitis, chronic), Infeksi saluran kemih berulang (Recurrent lower urinary-tract infection), Retensi urin (Retention of urine, traumatic), Gejala kencing batu (Urolithiasis), Gejala batu ginjal (Renal colic) 9. Gangguan pada pencernaan: Nyeri empedu (Biliary colic), Disentri (Dysentery), Nyeri ulu hati-lambung, Mual muntah (Nausea and vomiting), Nyeri perut (Abdominal pain (in acute gastroenteritis or due to gastrointestinal spasm), Radang kandung empedu (Cholecystitis, chronic), Gejala batu empedu (Cholelithiasis), Sindrom usus sensitive (Irritable colon syndrome), Luka usus kronis (Ulcerative colitis, chronic) 10. Alergi: Alergi hidung (Allergic rhinitis including hay fever), Alergi gatal kulit (Pruritus) 11. Gangguan kesuburan dan reproduksi: Kesuburan pada wanita (Female infertility), Kesuburan pada pria (Male infertility), Gangguan fungsi seksual (Sexual dysfunction, non-organic ) 12. Gangguan pada THT (telinga, hidung, tenggorokan): Nyeri telinga (Earache), Tuli mendadak (Deafness), Nyeri tenggorokan (Sore throat including tonsillitis), Mimisan (Epistaxis) 13. Gangguan pernapasan/ saluran napas: Pilek (Rhinitis), Asma (Bronchial asthma), Penyakit paru jantung kronis (Pulmonary heart disease, chronic) 14. Tambahan : Meninggikan badan, mengurangi kaca mata